HIKMAH REPUBLIKA

Air Tuba dibalas dengan Air Susu
Sesunguhnya marah itu datangnya dari syetan, dan syetan itu dijadikan dari api, dan yang dapat memadamkan api itu hanyalah air, maka apabila seorang dalam keadaan marah, hendaklah segera berwudhu (HR. Ahmad-Abu Dawud)

Memang sulit mengendalikan marah. Marah yang tidak terkendali akan berakibat fatal, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain. Akibat marah, seorang suami tega membunuh istrinya sendiri. Akibat marah seorang karyawan membunuh atasannya sendiri. Akibat marah TV yang masih baru ditendangnya. TV-nya hancur, kakinya terluka parah. Akibat marah HP dilemparkan, hancur berkeping-keping, tidak bisa dipake lagi. Padahal untuk mendapatkannya harus dibeli dengan susah payah. Banyak kerusakan yang diakibatkan oleh marah. Kita bisa menyaksikannya TV, atau membacanya di koran, bahkan mungkin melihat sendiri dalam kehidupan. Semuanya menimbulkan kerugian besar.

Mengendalikan marah merupakan perintah agama. Kita sebagai muslim sudah sepantasnya untuk memperhatikannya. Marah itu pintu masuknya syetan. Syetan sangat mudah mengendalikan dan memepermainkan orang yang sedang marah. Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh mengendaikan hawa nafsu ketika marah itu muncul. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita bagaimana mengendalikan marah.

Nabi saw,”Marah itu dari syetan, maka apabila salah seorang diantaramu marah dalam keadaan berdiri duduklah, dan apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah.” (HR Asy-Syaikhany).

Rasulullah saw bersabda: “Orang yang kuat itu bukanlah karena bergulat, tetapi orang yang kuat itu ialah yang dapat menguasai diri saat marah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang dapat menahan marahnya, padahal dia sanggup melampiaskan amarahnya itu, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan iman dan rasa aman ketengan (HR. Abu Dawud-Ibn Abid Dunia)

Mengendalikan marah mempunyai kedudukan tersendiri. Orang yang mampu menahan marahnya akan mendatangkan kebahagian dan terhindar dari kerugian. Akhlak seseorang dapat dilihat ketika orang itu mampu mengendalikan amarahnya. Kisah ini merupakan refleksi dari ketinggian akhlak seseorang.

Ada seorang sholeh yang bernama Qays bin Ashim Almundziri. Pada suati hari beliau sedang duduk-duduk ditengah rumahnya sambil menunggu anaknya yang sedang tidur. Tiba-tiba datanglah seorang pelayannya (budak) membawa daging panggang yang masih panas. Ketika pelayan itu melewati anaknya tiba-tiba daging panggang itu terjatuh dan tepat menimpa anaknya. Sungguh malang nasibnya, anak yang masih bayi itu meninggal seketika.

Melihat kejadian itu, budak itupun tercengang ketakutan. Mukanya terlihat pucat pasi, badannya bergetar, khawatir akan disiksa oleh majikannya. Dalam pikrannya terbayanglah hukuman yang akan menimpa dirinya. Akan tetapi apa yang terjadi? Tidak lama kemudian Qays bangkit dari duduknya dan menghampiri budak itu, dan berkata; “Tidak usah takut. Karena sekarang kamu telah aku merdekakan karena Allah”. Akhlak yang sangat mengagumkan. Qays mampu menahan marahnya. Budak itu bukan mendapat lampiasan amarah, malah sebaliknya, dibebaskan dari budak, padahal budak itu dalam kekuasaanya.

Ya Allah jadikanlah kami sebagai hamba yang mampu menahan marah, dan berilah kami akhlak yang mulia. Amiin.

Pemimpin Bijak

Senin, 08 Maret 2010, 14:01 WIB

Oleh Andri Rosadi MA

Islam menganjurkan kita untuk memilih pemimpin yang bijak dan cerdas. Sejarah mencatat bahwa raja-raja yang bijak dan cerdas selalu berhasil mengembangkan kerajaannya sehingga rakyatnya hidup aman dan makmur.

Sebaliknya, raja-raja yang lalim dan tidak cerdas selalu gagal mengembangkan kerajaannya. Raja atau pemimpin yang seperti ini hanya membawa kehancuran pada rakyat, bangsa, dan kerajaannya. Dinasti Umayyah dan Abbasiah mencapai masa keemasannya ketika dipimpin oleh pemimpin yang cerdas dan bijak. Tetapi, dengan cepat mengalami kemunduran ketika para pemimpinnya korup.

Dalam buku Turatsuna al Fikr, Syeikh Ghazali menerangkan bahwa kehancuran Dinasti Abbasiah di tangan bangsa Mongol lebih disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat moral daripada teknis. Dari segi jumlah pasukan dan perlengkapan, pasukan Abbasiah lebih banyak dan lengkap.Namun, dari segi kualitas hidup, kondisi mereka sangat memprihatinkan. Tentara Abbasiah hanya digaji beberapa dirham per bulan, namun pada saat yang sama, anggota keluarga khalifah menghabiskan ribuan dinar per hari untuk berpesta dan hidup mewah.

Ketika Abbasiah ditaklukkan, pasukan Mongol menemukan puluhan sumur yang penuh berisi emas permata. Dikatakan, nilai satu sumur saja cukup untuk membiayai pembangunan satu istana megah. Sangat kontras dengan kondisi pasukannya yang hidup prihatin sehingga kehilangan semangat untuk mempertahankan bangsa dan negara. Dari fakta sejarah ini, kita bisa melihat peran penting seorang pemimpin dalam membawa kemajuan atau kehancuran bangsanya.

Untuk konteks Indonesia, tak diragukan lagi bahwa kita sangat memerlukan pemimpin negara yang cerdas dan bijak. Jumlah penduduk yang begitu banyak di negeri ini tentu saja membawa permasalahan yang sangat kompleks. Ada banyak pertentangan karena perbedaan paham dan kepentingan. Kualifikasi seorang pemimpin yang bijak dan cerdas itu sering disebut sebagai seorang yang ahli. Sebagaimana yang telah diingatkan Nabi SAW, suatu bangsa atau kaum akan mengalami kehancuran jika mereka menyerahkan urusan dan amanahnya kepada orang yang bukan ahlinya.

Ahli dalam suatu urusan artinya mampu melaksanakan hak dan kewajibannya dengan baik. Kemampuan tersebut tidak hanya bergantung pada aspek intelektualitas, tapi juga moralitas. Sebab, banyak orang yang cerdas, namun lalai menunaikan kewajibannya karena kurangnya moral. Dalam konteks ini, kita bisa menyimpulkan bahwa keahlian harus didasarkan pada aspek intelektualitas dan moralitas. Dengan itulah, segala urusan kita insya Allah akan tertangani dengan baik

Akibat Zina

Jumat, 05 Maret 2010, 13:04 WIB

Oleh Muhammad Arifin Ilham

Zina merupakan kejahatan yang sangat besar dan memberi kesan amat buruk bagi pelakunya, sekaligus kepada seluruh manusia. Tidak akan pernah ada kebaikan dari perbuatan zina. Yang ada hanya ‘kenikmatan’ yang sesaat dan menipu. Allah SWT berfirman, ”Jangan dekati zina. Karena ia merupakan perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS Al-Isra [17]: 32).

Realitas yang tidak bisa ditutupi di negeri ini adalah perbuatan zina yang sudah merajalela. Pelakunya tidak lagi orang dewasa, tetapi juga dari kalangan anak dan remaja. Miris jika kita melihat hasil survei tentang siapa saja pelaku zina dan apa dampaknya. Saatnya kita renungi apa saja akibat dari perbuatan zina ini.

Pertama, pelakunya tercatat sebagai pendosa besar. Bahkan, ia disejajarkan dengan pelaku syirik dan pembunuh. Malaikat turut melaknat dan Rasulullah SAW tidak sudi mengakui sebagai pengikutnya. Pelaku zina mendapatkan kemurkaan dari Allah SWT dan akan menerima azab yang sangat pedih dan berlipat (QS Alfurqan [2]: 68-70).

Kedua, dalam perbuatan zina terkumpul semua jenis keburukan, seperti lemahnya iman, hilangnya ketakwaan, dan hancurnya akhlak terpuji. Karena itu, sanksi yang tegas adalah dirajam (dilempari batu berukuran sedang) hingga mati bagi yang sudah menikah, dan 100 cambukan bagi yang belum menikah.

Ketiga, perbuatan zina dapat membunuh rasa malu sehingga menjadikan seseorang tidak tahu malu. Perbuatan zina mempengaruhi keceriaan wajah sehingga menjadikannya kusam, kelam, dan tampak layu bagaikan orang yang mengalami kesedihan mendalam. Sehingga, ujung-ujungnya selalu sial jika melakukan sebuah pekerjaan.

Keempat, dengan berzina hilanglah sebutan hamba yang ‘afif (pemelihara kehormatan diri). Bahkan sebaliknya, masyarakat akan menjulukinya sebagai hamba yang jahat, fasik, pelacur, dan pengkhianat. Bahkan, sebuah hadis menyebutkan, zina hanya akan menghanguskan amal ibadah yang telah dilakukannya selama 40 tahun.

Di samping kerugian tersebut, pelaku zina juga berpotensi mati dalam keadaan terburuk atau su’ul khatimah; dan akan dibangkitkan dengan muka hitam legam dan dicelupkan ke dalam telaga ghilthoh yang berisi didihan nanah yang busuk.

Siapa pun yang menginginkan kenikmatan hidup, tetapi meraihnya dengan cara bermaksiat kepada Allah, di antaranya dengan berzina, Dia pasti akan mengazabnya dengan kebalikan apa yang diinginkannya. Semua kenikmatan yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan taat kepada-Nya. Allah sama sekali tidak pernah menjadikan suatu kemaksiatan sebagai penyebab untuk memperoleh kebaikan

Koalisi

Kamis, 04 Maret 2010, 15:57 WIB

Oleh Irfan Fajaruddin

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, koalisi diartikan kerja sama (politik) antarpartai politik untuk memperoleh kelebihan suara di parlemen. Suara yang dimaksud adalah jumlah person yang bersepakat untuk memutuskan suatu program dalam kerangka kerja pemerintahan.

Dalam ajaran Islam, berkoalisi sama halnya dengan bekerja sama atau tolong-menolong. Tertulis jelas dalam Alquran surah Almaidah [5] ayat 2, “Dan, tolong-menolonglah kalian dalam (berbuat) kebaikan dan takwa.” Artinya, bekerja sama atau tolong-menolong dalam bentuk apa pun hendaknya berorientasi kebaikan dan dalam rangka meningkatkan takwa atau berorientasi ketuhanan.

Dalam konteks kenegaraan dan politik Islam, koalisi dilakukan untuk menata kehidupan masyarakat yang Islami. Di sana, ada gerakan pengakuan Allah Yang Esa (tauhid), persaudaraan (ukhuwah), persamaan (musawah), berunding (musyawarah), berlomba dalam kebaikan, dan termasuk kebebasan.

Namun, terkadang dalam pelaksanaannya, terjadi semacam pertentangan antara satu anggota koalisi dengan yang lainnya. Pertentangan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah faktor ideologis. Dalam hal ini, terdapat kesepakatan dasar koalisi yang tiba-tiba terlupakan. Ada juga faktor perubahan orientasi koalisi menjadi kebendaan dan materi, bukan lagi spiritual. Faktor eksternal juga bisa dihitung karena bisa saja ada yang bertujuan memecah belah persatuan ideologis-spiritualis ini.

Untuk itulah, Allah SWT mengingatkan orang-orang yang tengah bersepakat berkoalisi agar teguh memegang visi dan misi spiritual-kemasyarakatan dalam berpolitik dan bernegara. Peringatan Allah tersampaikan dalam surah Ali Imran [3]: 103, “Dan, berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Dan, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan. Maka, Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah itu orang-orang yang bersaudara.”

Para ahli tafsir menafsirkan kata ‘tali Allah’ itu sebagai Alquran atau agama Islam. Menurut Buya Hamka, dengan berpedoman pada tali Allah, dirimu yang terpecah-pecah itu dengan sendirinya akan menjadi satu. Kalau hati telah menyatu, segala sesuatu menjadi ringan dipikul dan segala kesalahpahaman akan mudah diselesaikan.

Dengan terbangunnya koalisi yang berorientasi ketuhanan, membangun kehidupan Islami, serta berpedoman dan memegang kuat tali Allah; Allah akan membuka jalan bagi orang-orang untuk tetap bersatu dalam koalisi tersebut

Sisi Lain Maulid Nabi

Rabu, 03 Maret 2010, 10:09 WIB

Oleh Prof Dr Ali Mustafa Yaqub

Seorang kawan mengeluh kepada kami. Katanya, sekarang ini banyak anggota GAM di Jakarta. “Eh, yang benar saja. Mana ada anggota Gerakan Aceh Merdeka di Jakarta,” begitu kami menyanggah. “Ini bukan GAM yang berarti Gerakan Aceh Merdeka, tetapi GAM yang berarti Gerakan Anti Maulid,” kata kawan tadi menjelaskan.

“Apa argumen mereka?” Tanya kami mengejar. “Mereka bilang peringatan maulid itu tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi, ini termasuk bid`ah,” jelasnya. “Wah, kalau yang namanya bid`ah itu adalah ibadah yang tidak pernah dikerjakan Nabi SAW, akan banyak ibadah yang menjadi bid`ah,” jelas kami.

“Banyak ibadah menjadi bid`ah? Apa maksud Ustaz?” Begitu kawan tadi bertanya penasaran. “Ya, kalau ibadah yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW itu disebut bid`ah, umrah Ramadhan adalah bid`ah. Karena, Rasulullah selama hidup tidak pernah menjalankan umrah pada bulan Ramadhan. Kita mengeluarkan zakat fitri dengan beras juga bid`ah, karena Rasulullah tidak pernah mengeluarkan zakat fitri dengan beras.” Begitu kami menjelaskan.

“Lalu, yang disebut bid`ah itu apa Ustaz?” Tanyanya lagi. “Dalam bidang ibadah, yang disebut bid`ah adalah ibadah yang tidak ada dalilnya dalam agama (dalil syar`i). Yang dimaksud dalil syar`i adalah Alquran, hadis, ijma`, qiyas, dan lain-lain,” tambah kami. “Contohnya apa, Ustaz?” Tanya dia lagi. “Contohnya, shalat Shubuh 10 rakaat. Tidak ada dalilnya dalam agama. Yang ada dalil olah raga. Pagi hari, semakin banyak bergerak semakin baik,” jelas kami.

“Lalu, apakah peringatan maulid Nabi SAW itu ada dalilnya dalam agama?” Tanyanya lagi. “Untuk menghukumi sesuatu, kita tidak boleh melihat namanya, tetapi kita lihat substansi perbuatan atau materinya. Apabila kita menghukumi sesuatu dari namanya, hotdog yang bahannya terigu dan daging ayam yang disembelih sesuai syariah Islam, hukumnya haram karena makanan itu bernama hotdog alias anjing panas.”

”Maka, seperti kata Syekh Dr Ahmad al-Syurbasyi dalam kitabnya Yasalunaka fi al-Din wa al-Hayah, untuk menghukumi maulid, kita harus melihat perbuatan yang dilakukan dalam maulid itu. Apabila maulid itu diisi dengan maksiat dan kemungkaran, hukumnya haram. Namun, apabila diisi dengan membaca Alquran, penerangan perjuangan Rasulullah SAW, dan sebagainya, semua itu ada dalil yang menganjurkannya. Begitu pendapat Syekh Dr Ahmad al-Syurbasyi dari Mesir,” jelas kami. “Wah, terima kasih, Ustaz. Sekarang saya sudah paham,” jawabnya

Cahaya Muhammad SAW

Ahad, 28 Februari 2010, 09:58 WIB

Oleh KH Didin Hafidhuddin

Rasulullah SAW adalah manusia yang dipilih Allah SWT untuk menjadi rasul dan nabi-Nya yang terakhir (QS Al-Ahzab [33]: 40). Beliau adalah figur teladan, pemimpin panutan umat, yang seluruh perilakunya, termasuk cara berpikir dan berbicaranya, sarat dengan nilai-nilai akhlak yang sangat mulia dan sangat agung (QS Alqalam [68]: 4). Beliau adalah seorang yang sangat jujur, amanah, rendah hati, bersahaja, penuh dengan keberanian, kreativitas, dan sekaligus profesional.

Kehadirannya membawa dan menebarkan rahmat, cinta, dan kasih sayang. Bukan sekadar bagi umat manusia, tetapi juga bagi tumbuh-tumbuhan dan pepohonan, bagi kelestarian alam, bagi hewan ternak dan binatang, dan bahkan bagi seluruh alam semesta.

Beliau adalah pemimpin yang sangat memerhatikan umatnya, yang merasakan getaran jantung dan denyut hati mereka. Ketika umat bersukacita, beliau pun merasakan sukacita itu. Ketika mereka mengalami berbagai penderitaan, seperti kemiskinan, kelaparan, dan rasa takut yang luar biasa, beliaulah orang pertama yang merasakannya dan selalu berusaha mencari jalan keluarnya. Beliau adalah pemimpin yang larut dan menyatu dengan umatnya sehingga tidak ada pemisah antara keduanya (QS Attaubah [9]: 128).

Beliau adalah pemimpin sejati, pemimpin lahir dan batin, pemimpin individu dan masyarakat, pemimpin keluarga dan bangsa, pemimpin masa damai dan masa genting, pemimpin dalam suka dan duka, dan bahkan juga pemimpin dunia akhirat.

Mencintai Rasulullah sesungguhnya adalah mencintai perilaku dan akhlaknya yang sangat mulia itu. Yaitu, mencintai kejujuran, kesederhanaan, kerendahan hati, dan sekaligus mencintai keberanian untuk menyatakan yang haq itu haq dan yang batil itu batil. Juga, beliau mencintai umat, masyarakat, dan bangsa, terutama pada mereka yang fakir miskin atau yang hidupnya sedang mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan.

Kecintaan dalam bentuk mengikuti sunnahnya pada hakikatnya merupakan refleksi dan manifestasi dari kecintaan kepada Allah SWT. Allah berfirman, ”Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran

Etika Berkata

Rabu, 24 Februari 2010, 13:09 WIB
WORDPRESS

WORDPRESS

Oleh Ade Muzaini Aziz MA

Kalimah thayyibah atau perkataan yang baik merupakan perkataan yang direstui oleh Allah SWT (QS Ibrahim [14]: 24-25). Ia punya akar kebenaran yang kuat dan menimbulkan maslahat bagi umat; laksana pohon yang subur, rimbun, dan berbuah lebat.

Di dalam Alquran, setidaknya disebutkan ada tujuh jenis perkataan yang sesuai dengan ajaran Islam. Pertama, qawlun ma’ruf (perkataan yang baik). Perkataan jenis ini identik dengan kesantunan dan kerendahan hati. Alquran mensinyalir bahwa mengucapkan qawlun ma’ruf lebih baik daripada bersedekah yang disertai kedengkian (QS Albaqarah [2]: 263). Kedua, qawlun tsabit (ucapan yang teguh). Perkataan ini punya argumentasi yang kuat serta dilandasi keimanan yang kokoh. Tidak ada keraguan yang menyelimutinya. Kezaliman yang nyata patut dihadapi dengan perkataan jenis ini (QS Ibrahim [14]: 27).

Ketiga, qawlun sadid (perkataan yang benar). Tiada dusta dan kebatilan dalam ucapan ini. Kata sadid berasal dari sadda yang berarti menutup, membendung, atau menghalangi. Qawlun sadid yang diucapkan berfungsi untuk mencegah terjadinya kemungkaran dan kezaliman. Bukti ketakwaan seorang Mukmin di antaranya gemar mengucapkan perkataan ini (QS Al-Ahzab [33]: 70).

Keempat, qawlun baliqh (ucapan yang efektif dan efisien). Ini adalah jenis ucapan yang cermat, padat berisi, mudah dipahami, dan tepat mengenai sasaran alias tidak ngelantur . Tipe perkataan seperti ini akan berpengaruh kuat bagi pendengarnya (QS Annisa [4]: 63).

Kelima, qawlun karim (perkataan yang mulia). Ia adalah tutur kata yang bersih dari kecongkakan dan nada merendahkan atau meremehkan lawan bicara. Terdapat semangat memuliakan, menghormati, dan menghargai terhadap lawan bicara dalam qawlun karim tersebut (QS Al-Isra [17]: 23).

Keenam, qawlun maysur (ucapan yang layak dan pantas). Maysur arti asalnya adalah yang memudahkan. Ucapan ini mengandung unsur memudahkan segala kesukaran yang menimpa orang lain, dan menghiburnya guna meringankan beban kesedihan (QS Al-Isra [17]: 28).

Ketujuh, qawlun layyin (tutur kata yang lemah lembut). Kelembutan diharapkan dapat menundukkan kekerasan, sebagaimana air dapat memadamkan api. Inilah pesan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika keduanya hendak menghadap Firaun yang lalim (QS Thaha [20]: 44).

Rasulullah SAW pun mengingatkan, ”(Muslim terbaik) ialah yang orang-orang Muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya (perbuatannya).” (HR Bukhari dan Muslim). Semoga lisan, tulisan, dan tindakan kita, senantiasa sesuai dengan tuntunan Ilahi dan para nabi, amin

Membersihkan Jiwa

Selasa, 09 Februari 2010, 17:48 WIB
NUSANSIFOR.COM

NUSANSIFOR.COM

Oleh Ahmad Soleh

Allah SWT mengilhamkan kepada jiwa manusia dua jalan, kejahatan dan ketakwaan. ”Dan (demi) jiwa dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams [91]: 7-10).

Jiwa manusia laksana air. Akan tetap jernih apabila dirawat dan disucikan. Apa pun yang dimasukkan ke dalam air jernih, dengan mudah bisa dilihat dan dikenali. Namun, akan sulit melihat dan mengenali benda yang dimasukkan dalam air yang hitam pekat.

Jiwa manusia akan menjadi hitam jika kemaksiatan dan perbuatan dosa terus dilakukannya. Pada jiwa seperti ini, penyakit hati mulai menjangkiti. Iri, dengki, dan serakah mulai tumbuh. Jiwa ini sulit ditembus cahaya dan petunjuk Allah disebabkan pekatnya kotoran dosa.

Akibatnya, jiwa tidak bisa membedakan lagi mana jalan yang diperintahkan dan jalan yang terlarang. Semua dianggapnya sama.
Jalan kefasikan dinilainya tidak berdosa jika dilalui, sedangkan jalan kebaikan dinilainya sia-sia untuk dilakukan. Orang-orang yang berjiwa demikian tidak akan bisa merasakan keikhlasan, kesabaran, dan lapang dada.

Adapun jiwa yang dihiasi ketaatan serta amalan saleh akan menjadi lebih bersih, sehat, dan segar. Cahaya dan petunjuk Ilahi akan tembus meresap dan mengendap dalam relungnya. Jiwa ini akan lebih mudah membaca dan menyimpulkan setiap isyarat di hadapannya dan ayat alam di sekelilingnya. Ia punya prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, optimistis dan lapang dada.

Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk membersihkan jiwa. Di antaranya dengan berzikir, membaca Alquran, dan shalat. Dzikrullah yang dibarengi pengenalan tentang zat Allah (ma’rifatullah) akan mengundang kepasrahan kepada Allah dan syariah-Nya, sehingga jiwa menjadi tenang (QS Ar-Ra’du [13]: 28), dan hatinya bergetar karena rasa takut dan berharap kepada-Nya (QS Al-Anfal [8]: 2).

Selanjutnya, membaca Alquran yang disertai pendalaman kandungannya akan meningkatkan keimanan pembacanya dan menambah kecintaan kepada bacaan mulia ini. Juga, menjadi pendorong baginya untuk mencintai Zat Yang menurunkan kalam ini.

Adapun shalat merupakan bukti ketundukan seorang hamba kepada Khaliknya. Shalat mengantarkan pelakunya mampu menepis perbuatan keji dan mungkar (QS Al-Ankabut [29]: 45) dalam kehidupan sehari-hari. Di saat kejahatan merebak di masyarakat, pembersihan jiwa hendaknya dilakukan setiap insan Muslim. Oleh karenanya, mari bersihkan jiwa, mulai dari kita sendiri.

Krisis Keteladanan

Jumat, 19 Februari 2010, 11:22 WIB

Oleh A Ilyas Ismail

Sudah sejak lama, disadari atau tidak, kita mengalami krisis keteladanan. Krisis ini sejatinya lebih berbahaya ketimbang krisis pangan, krisis energi, dan krisis keuangan. Berbagai krisis ini timbul justru karena tidak adanya pemimpin yang visioner dan tercerahkan, dalam arti mampu membawa umat kepada kehidupan yang mulia dan sejahtera lahir serta batin.

Kenyataan ini mendorong kita untuk merenungkan kembali posisi dan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan bagi umat manusia. Firman-Nya: ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Ayat ini menurut pakar tafsir, Ibn Katsir, merupakan pedoman dasar dalam penetapan Nabi SAW sebagai suri teladan. Meskipun turun dalam konteks perang (Khandaq), ayat ini bersifat umum dalam arti mengharuskan kaum Muslim meneladani Nabi SAW tak hanya dalam soal perang, tapi dalam segala hal.

Nabi SAW memang patut dijadikan teladan. Allah SWT memujinya sebagai manusia dengan pribadi yang agung (QS Alqalam [68]: 4). Keagungan ini pantas disandangnya karena beliau sebagai Nabi terakhir, yang mampu menempa dan mewarisi semua sifat serta keutamaan yang dimiliki nabi-nabi terdahulu. Firman-Nya: ”Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS Al-An`am [6]: 90).

Makna meneladani Nabi itu dipahami oleh para ulama dalam beberapa pengertian. Pertama, wujub al-Iqtida’ bahwa kaum Muslim mesti mengikuti Nabi dan menjadikannya sebagai tokoh identifikasi diri dalam segala hal, baik perkataan, sikap, maupun perilaku.

Kedua, mulazamat al-tha`ah bahwa kaum Muslim harus senantiasa patuh dan taat kepada Nabi. Kata ‘meneladani’ itu, menurut al-Alusi, hanya bisa dimengerti bila kaum Muslim taat kepadanya. ”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS Alhasyr [59]: 7).

Ketiga, `adam al-takhalluf `anh bahwa kaum Muslim tidak boleh menjauh dan berpaling dari Nabi, seperti halnya orang-orang munafik. Kaum Muslim tidak pantas berlaku demikian, karena Nabi, sang teladan, hadir di tengah-tengah mereka.

Krisis keteladanan yang selama ini terjadi dapat dicegah bila kita mampu meneladani Nabi. Sebagai suri teladan, Nabi mesti menempati ‘ruang khusus’ dalam kesadaran kaum Muslim. Sehingga, keberadaan beliau dapat menjadi sumber inspirasi bagi mereka sepanjang masa

Rahmat Allah Luas, Jangan Sempitkan!

Senin, 15 Februari 2010, 13:54 WIB
WORDPRESS

WORDPRESS

Oleh: K.H. Tengku Zulkarnain

Rahmat Allah bermakna kasih sayang Allah. Ianya tidak terbatas kepada para Nabi dan orang-orang shalih saja, tetapi meliputi seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi. Sebegitu besarnya kasih sayang Allah kepada makhluk ciptaan-Nya, sehingga meskipun makhluk-Nya itu terus-menerus mendurhakaiNya, Allah tetap saja mengalirkan kasih sayangnya kepada mereka. Berbeda dengan makhluk yang umumnya menyayangi seseorang beriring pamrih. Ketika orang yang disayanginya memberikan balasan yang baik kepadanya, orang itu akan tetap menyayangi. Sebaliknya, jika dia mendapat balasan yang tidak baik, serta merta kasih sayangnya hilang berganti dengan rasa benci dan dendam.

Sering manusia menaburkan kebaikan hanya kepada orang-orang yang dikasihinya saja, dan tidak acuh kepada orang lain diluar orang yang disayanginya itu. Dengan kata lain, kasih sayangnya sangat terbatas. Yang paling buruk dari sifat manusia manakala dia ingin segala kebaikan hanya untuk dirinya dan orang-orang yang disayanginya. Suatu hari, seorang Arab badui yang sudah tua usianya masuk ke Masjid Nabi kemudian melaksanakan sholat. Lalu dia berdo’a dengan suara yang keras, “Ya Allah, kasih sayangilah aku dan Nabi Muhammad, dan janganlah Engkau sayangi seorangpun yang lain melainkan kami berdua saja.” Mendengar doa itu, maka Nabi berpaling kepadanya seraya berkata, ”Sungguh engkau telah menyempitkan rahmat Allah yang luas itu!” (HR. Turmidzi nomor 146)

Betapa seringnya kita dalam kehidupan sehari-hari bertindak seperti badui tadi. Kita hanya memikirkan kebahagiaan itu adalah untuk ku, anak ku, isteri ku, keluarga ku, kaum kerabat ku, handai taulan ku, golongan ku, partai ku dan lain-lain sebagainya dengan selalu memakai kata ‘ku’. Sementara orang lain semuanya seolah tersekat untuk mendapatkan kebahagiaan yang sama. Betapa egoisnya pemikiran seperti ini. Padahal Rasulullah telah bersabda dalam hadis yang lain, “Manusia yang terbaik diantara kamu adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.” Artinya, selama seseorang hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya saja, maka selama itu orang tersebut tidak akan pernah mencapai derajat manusia terbaik. Semakin luas seseorang itu member manfaat kepada orang lain, maka akan semakin tinggilah derajatnya disisi Allah.

Berbuat baik dan menabur kasih sayang adalah sifat yang paling mulia, sekecil apapun perbuatan baik dan kasih sayang itu dilakukan. Mungkin orang lain tidak merasakan kasih sayang dan perbuatan baik yang dilakukan karena terlalu kecil nilainya, namun bagaimanapun disisi Allah perbuatan itu tetap dihitung dan bernilai besar di dunia maupun akhirat. Firman Allah: “Barangsiapa melakukan perbuatan baik walaupun sebesar dzarrah, Allah akan melihatnya.” (QS. Az Zilzal: 7)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: