PTK

PTK
Mei 5, 2010 oleh tatangrustandi

A. Judul Penelitian

Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Ekonomi Menggunakan Model Examples Non Examples Dengan Pendekatan SAVI di Kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak.

B. Latar Belakang

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting, yaitu untuk menjamin kelangsungan kehidupan dan perkembangan bangsa itu sendiri. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003:3) pasal 1 yang berbunyi:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. RENCANA PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Posted on 30 Juni 2008 by Abdul Majid

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memerlukan guru dan murid karena salah satu unsur dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang merupakan dua bentuk kegiatan yang tidak dapat dipisahkan antar satu dengan lainnya.

Selain itu sekolah sebagai salah satu unsur dalam dunia pendidikan saat ini sedang mengalami perhatian dari berbagai pihak, karena pendidikan sangat diperlukan oleh masyarakat dalam menghadapi kehidupan yang sangat kompleks, dimana pendidikan saat ini terus berbenah diri menemukan cara yang terbaik untuk mencapai hasil yang sesuai dengan tuntutan masyarakat.

Untuk meningkatkan mutu dan hasil belajar dalam pengajaran seorang guru dituntut supaya menguasai dan menerapkan berbagai metode pengajaran IPS Ekonomi.

Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru, dan pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam proses pembelajaran masih sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan siswa lebih bersifat pasif sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, ketrampilan atau sikap yang mereka butuhkan.

Selama ini proses pembelajaran ekonomi yang ditemui masih secara konvensional, seperti ekspositori, drill atau bahkan ceramah. Proses ini hanya menekankan pada pencapaian tuntutan kurikulum dan penyampaian tekstual semata daripada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun individu. Kondisi seperti ini tidak akan menumbuhkembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan. Akibatnya nilai-nilai yang didapat tidak seperti yang diharapkan.

Misalnya sering guru kecewa melihat hasil ulangan harian yang hanya mendapat daya serap kurang dari 60% atau nilai rata-rata kelas kurang dari 5. Kadang-kadang guru merasa prihatin dan ingin memperbaiki keadaan tersebut dengan mencobakan suatu pembelajaran yang belum pernah dilaksanakan, yaitu pendekatan pembelajaran yang akan membuat siswa dapat belajar secara efektif.

Pembelajaran yang efektif adalah yang berpusat pada siswa yaitu, siswa sebagai subjek pembelajaran yang harus aktif kreatif dan mampu berfikir kritis, dalam hal ini peran guru sebagai pembimbing dan fasilitator. Guru memiliki peranan penting artinya selain sebagai pembimbing dan fasilitator bagi siswa, guru juga harus bertindak secara profesional. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dasar (kompetensi) antara lain sebagai berikut:

Menguasai bahan, mengelola program belajar-mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau sumber, menguasai landasan-landasan kependidikan, mampu mengelola interaksi belajar mengajar, mampu menilai prestasi untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian guna keperluan pengajaran (W. Gulo, 2002:37).

IPS Ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan disekolah menengah pertama. Di kalangan siswa terdapat kecenderungan, bahwa mata pelajaran ini kurang diminati. Padahal mata pelajaran ini termasuk mata pelajaran yang di-Ebtanaskan. Kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran ini, dimungkinkan karena kurangnya upaya guru untuk mengingkatkan kreatifitas belajar siswa. Kebanyakan guru masih dominan menggunakan metode ceramah dalam mengajar sehingga tidak terciptanya proses pembelajaran yang menyenangkan dan bervariasi, yang dapat menambah semangat belajar siswa. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar kurang menarik dan membosankan karena siswa tidak dirangsang atau ditantang untuk belajar dan berfikir kreatif.

Dalam proses belajar mengajar, khususnya dalam upaya meningkatkan hasil belajar para siswa, idealnya para guru IPS-Ekonomi dituntut untuk memiliki kemampuan:

1. Memanfaatkan berbagai sumber belajar.

2. Memahami cara berpikir siswa.

3. Memahami cara siswa belajar.

4. Memilih dan menggunakan media secara tepat.

5. Memilih dan menggunakan metode secara tepat.

6. Menguasai bahan/materi pelajaran yang disampaikan kepada para siswa, (Depdikbud : 1998)

Seperti penjelasan di atas, yaitu di dalam pembelajaran mata pelajaran IPS-Ekonomi umumnya para guru lebih banyak menggunakan metode ceramah. Hal ini menyebabkan siswa jadi pasif dan kemampuan berpikirnya tidak berkembang secara baik.

Sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah menengah pertama IPS Ekonomi memiliki tujuan. Adapun tujuan mata pelajaran IPS Ekonomi di sekolah menengah pertama adalah sebagai berikut:

Mampu menghadapi fakta dan peristiwa ekonomi dilingkungannya.
Mampu berfikir kritis dan menggunakan atau menerapkan beberapa pengertian ekonomi dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Untuk mencapai tujuan diatas, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah proses belajar mengajar yang terjadi dalam kelas. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan untuk memper suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2).

Proses belajar dapat dirinci kedalam beberapa prinsip dasar. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, kita akan dapat memiliki arah dan pedoman yang jelas dan relalif mudah sehingga lebih cepat berhasil dalam belajar serta akan menentukan metode belajar yang efektif.

Menurut Thursan Hakim (2000:2) adapun prinsip-prinsip belajar tersebut sebagai berikut:
Belajar harus berorientasi pada tujuan yang jelas.
Proses belajar akan terjadi bila seseorang dihadapkan pada situasi problematis.
Belajar dengan pengertian akan lebih bermakna dari pada belajar dengan hafalan.
Belajar merupakan proses yang kontinyu.
Belajar memerlukan kemauan yang kuat.
Keberhasilan belajar ditentukan oleh banyak faktor.
Belajar secara keseluruhan akan lebih berhasil dari pada belajar secara terbagi-bagi.
Proses belajar memerlukan metode yang tepat.
Belajar memerlukan adanya kesesuaian antara guru dan murid.
Belajar memerlukan kemampuan dalam menangkap intisari pelajaran itu sendiri.

Sedangkan mengajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyampaian materi kepada para siswa agar siswa tersebut menjadi tahu dan paham dengan menggunakan berbagai teknik dan pendekatan pembelajaran. Agar proses dan pencapaian hasil belajar dapat efesien dalam penggunaan waktu, terarah, tercapainya tujuan yang telah ditetapkan serta terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan siswa dalam belajar tersebut tidaklah mudah, khususnya mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan ekonomi dan pola pikir ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membuat mereka terlibat secara langsung, dan membuat mereka merasakan kegembiraan dalam belajar perlu diciptakan kondisi kelas yang mendukung, dengan setting membuat mereka tetap dalam keadaan belajar. Hal itu dapat terlaksana jika prinsip-prinsip dasar belajar dilaksanakan sepenuhnya.

Prinsip-prinsip dasar tersebut antara lain:

1. Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh.

2. Belajar adalah berkreasi, bukan mengonsumsi.

3. Kerja sama membantu proses belajar.

4. Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan.

5. Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik).

6. Emosi positif sangat membantu pembelajaran.

7. Otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis

(Meier, 2000:54-55).

Berdasarkan prinsip-prinsip dasar tersebut, diperlukan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang membuat siswa terlibat secara aktif sepenuhnya. Menurut Meier (2000:90) Belajar Berdasar Aktivitas (BBA) berarti bergerak aktif secara fisik ketika belajar, dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin, dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses belajar.

Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan bergerak kesana kemari. Akan tetapi, menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Pendekatan yang dapat digunakan disini adalah pendekatan SAVI. Menurut Meier (2000:91) pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.

Unsur-unsur SAVI antara lain:

Somatis : Belajar dengan bergerak dan berbuat

Auditori : Belajar dengan berbicara dan mendengar

Visual : Belajar dengan mengamati

Intelektual : Belajar dengan memecahkan masalah dan berfikir.

Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran. Misalnya, seorang siswa dapat belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi ia dapat belajar jauh lebih banyak jika dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S), membicarakan apa yang mereka pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi dalam presentasi tersebut untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada (I).

Saat ini pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah telah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada (1) Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, dan (2) Permendiknas RI No. 23 Tahun 2006 Tentang Standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. (Badan Standar Nasional Pendidikan: 2006)

SMP Negeri 7 Pontianak merupakan salah satu diantara Sekolah Menengah Pertama Negeri yang ada dikota Pontianak. Saat ini SMP Negeri 7 Pontianak telah menggunakan KTSP khususnya dikelas VII. Dalam Kurikulum yang berlaku di SMP Negeri 7 Pontianak, IPS Ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada siswa kelas VII yang diajarkan satu jam pelajaran tiap pertemuan perminggu.

Berdasarkan hasil ulangan harian mata pelajaran IPS Ekonomi Semester 1 Tahun Ajaran 2006/2007 kelas VII SMP Negeri 7 Pontianak menunjukkan nilai rata-rata yang masih rendah, seperti yang terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1: Nilai rata-rata Ulangan Harian Mata Pelajaran IPS Ekonomi kelas VII Semester 1 SMP Negeri 7 Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007.

Kelas
Jumlah Siswa
Jumlah Nilai
Nilai Rata-Rata

VII A

VII B

VII C

VII D

VII E
41 Orang

40 Orang

39 Orang

40 Orang

40 Orang
2.532

2.415

2.495

2.639

2.435
61.75

60.38

63.97

65.97

60.88

Sumber: Daftar Nilai Guru Mata Pelajaran IPS Ekonomi Kelas VII.

Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 7 Pontianak sebagian besar menunjukkan hasil yang masih rendah. Nilai rata-rata tertinggi adalah 65.97, sedangkan nilai rata-rata terendah adalah 60.38. Diantara kelas yang ada, kelas VII B adalah kelas yang nilai rata-rata ulangan hariannya paling rendah. Dikarenakan oleh nilai rata-rata ulangan harian dan prestasi belajar paling rendah dibandingkan dengan kelas lainnya, maka penelitian tidakan kelas ini hanya dilakukan dikelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak. Berikut ditampilkan nilai ulangan harian mata pelajaran IPS Ekonomi kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007.

Tabel 2: Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran IPS Ekonomi kelas VII B Semester 1 SMP Negeri 7 Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007.

No
Nama
Nilai
Keterangan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

38.

39.

40.
Agustina

Angga Indrawan

Aradhea Systia .P

Arina Milati

Defi Hardianti

Dian Novita

Dianita Utami

Didi Ariyadi

Eko Saputra

Eliyani

Fahru Rozi

Faisal .P

Ferdi Nandus Joko

Ismaya Dwi .A

Jennie Ivana

Juliadi

Lukman Nilhakim

Mariana

Marlina

Meilina

M. Reza

M. Subhan

Myrna H.R

Nurhasanah

Nurul Ismia

Paril

Petrus Kutul

Rohmatika

Sarah Nur Fadlun

Sarah Sepmikarlia

Satrio Suryo Dwi

Septian

Shintikhe D.G

Siti Deviro

Susilawati

Saiful

Tri Hardianti

Uswantun Hasanah .O

Vivie Febriyanti

Yuda Rezki .P
60

50

85

60

50

90

75

65

70

70

65

65

60

60

70

40

50

65

80

75

40

40

85

65

50

60

40

50

65

40

55

50

85

60

60

40

30

50

80

65
Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tuntas

Tuntas

Tuntas

Tuntas

Tuntas

Tuntas

Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tuntas

Tuntas

Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tuntas

Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tidak Tuntas

Tuntas

Tuntas

Jumlah
60.38
Tidak Tundas

Sumber: Daftar Nilai Guru Mata Pelajaran IPS Ekonomi Kelas VII B.

Berdasarkan pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa yang memperoleh nilai ≥ 65 (Ketuntasan) berjumlah 18 orang atau mencapai 34.15% dan yang memperoleh nilai ≤ 65 (Tidak Tuntas) berjumlah 22 orang atau mencapai 61,85%. Maka nilai rata-rata kelas VII B adalah 60.38 dan belum mencapai ketuntasan

Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 5 Februari 2007 dengan guru mata pelajaran IPS Ekonomi kelas VII B (Maskartini. S.pd) di SMP Negeri 7 Pontinak, rendahnya hasil belajar tersebut disebabkan oleh kurangnya konsentrasi siswa dalam belajar, kurangnya minat terhadap bahan pelajaran, kurangnya keaktifan siswa serta kurangnya media atau sumber pembelajaran berupa buku paket sehingga menyebabkan siswa bergantung kepada guru sehingga siswa belum dapat belajar secara mandiri dan yang disediakan hanyalah berupa LKS yang didalamnya hanya tertera ringkasan materi dalam skala kecil. Serta dalam kegiatan mengajar guru cenderung menggunakan metode ceramah. Hal ini menyebabkan siswa menjadi kurang aktif dalam proses belajar.

Penggunaan pendekatan SAVI khususnya dalam mata pelajaran IPS Ekonomi, diharapkan siswa dapat lebih berkonsentrasi dan belajar aktif dalam proses pembelajaran, menambah minat siswa didalam belajar, meningkatkan kreatifitas siswa, siswa mampu memahami fakta dan peristiwa ekonomi dilingkungannya serta mampu berfikir kritis dan menggunakan atau menerapkan beberapa pengertian ekonomi dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sesuai dengan tujuan mata pelajaran IPS Ekonomi untuk Sekolah Menengah Pertama.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas mengenai ” Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Ekonomi Menggunakan Model Examples Non Examples Dengan Pendekatan SAVI di Kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak”.

C. Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang, maka yang menjadi masalah umum dalam penelitian ini adalah ”Apakah dengan menggunakan pendekatan SAVI hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Ekonomi pada siswa kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak dapat ditingkatkan?”.

Adapun sub-sub masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kurangnya konsentrasi siswa dalam belajar.

2. Kurangnya minat dan motivasi siswa dalam belajar.

3. Kurangnya keaktifan siswa dalam belajar.

4. Kurangnya media atau sumber pembelajaran berupa buku paket.

5. Guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran.

D. Cara Pemecahan Masalah

Sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 7 Pontianak dalam pembelajaran IPS Ekonomi adalah peneliti memilih beberapa alternatif antara lain:

1. Dengan melakukan penelitian tindakan kelas melalui pendekatan SAVI.

2. Menyarankan kepada siswa untuk melengkapi buku pelajaran yang diperlukan.

3. Dengan memberikan motivasi, membantu siswa yang kesulitan untuk memahami materi pelajaran dan membantu siswa yang memiliki kesadaran masih rendah dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

4. Memberikan variasi model pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Usaha untuk memecahkan masalah tersebut diatas dalam penelitian tindakan kelas ini adalah dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Kolaborasi : Peneliti secara bersama-sama melakukan kegiatan mendiskuksikan hal-hal yang akan dilakukan, utamanya untuk mendalami dan memahami pendekatan SAVI dalam rangka menyiapkan strategi pembelajaran IPS yang sesuai dengan setting kelas yang akan diberi tindakan.

2. Brainstorming : Anggota tim melakukan musyawarah untuk menyusun skenario tindakan yang perlu disiapkan dalam proses pembelajaran dikelas.

3. Observing : Anggota tim peneliti melakukan kegiatan pengamatan terhadap jalannya pemberian tindakan yang dilakukan oleh guru berdasarkan skenario yang telah disiapkan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi keberhasilan maupun kegagalan dan penyebabnya.

4. Refleksi : Anggota tim peneliti melakukan diskusi bersama untuk membahas hasil pengamatan. Hasil kegiatan ini akan memberikan manfaat yang berguna dalam menentukan cara pemecahan masalah yang dihadapi dan sekaligus menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun rencana tidakan berikutnya.

E. Tujuan Penelitian

Setiap aktivitas atau kegiatan yang dilakukan tentunya harus memiliki tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Supaya siswa dapat lebih berkonsentrasi dalam proses pembelajaran.

2. Meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.

3. Meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:

1. Bagi Siswa.

a. Dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran ekonomi.

b. Dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih giat khususnya dalam pembelajaran ekonomi.

2. Bagi Guru.

a. Dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SAVI dalam pembelajaran ekonomi.

b. Mampu melakukan penilaian terhadap media yang akan atau yang telah digunakan.

3. Bagi Penulis.

a. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan di bidang pendidikan.

b. Jika penulis menjadi seorang guru nantinya, penulis akan lebih mengetahui bahwa dengan menggunakan pendekatan SAVI akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

4. Bagi Lembaga atau Sekolah.

a. Memberikan sumbangan pemikiran yang baik dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

b. Untuk meningkatkan keterampilan guru dalam menerapkan pendekatan SAVI dalam kegiatan belajar mengajar.

G. Defenisi Operasional

Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini, maka perlu dibuat penjelasan istilah atau devinisi-devinisi yang di pakai dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Aktivitas Belajar Siswa.

Aktivitas Belajar Siswa adalah Gerakan yang dilakukan untuk sama-sama aktif ketika belajar dengan memanfaatkan sebanyak mungkin.

2. Mata Pelajaran IPS Ekonomi.

Mata Pelajaran IPS Ekonomi dalam pelaksanaan pembelajarannya lebih menekankan pada cara belajar berfikir sistematis statistik untuk menyusun dan menarik kesimpulan suatu fenomena ekonomi yang data atau faktanya sudah dikumpulkan sebelumnya sebagaimana tercatat dalam Kurikulum Pendidikan Dasar 1994. Mata Pelajaran IPS Ekonomi untuk SLTP dengan tujuan umum sebagai berikut:

a. Mampu memahami fakta dan peristiwa ekonomi dilingkungannya.

b. Mampu berfikir kritis dan menggunakan atau menerapkan beberapa pengertian ekonomi dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Nasution (1978:1) menyatakan:

”Tiap-tiap mata pelajaran atau disiplin ilmu mempunyai struktur tertentu, struktur tersebut terdiri atas konsep-konsep pokok, bila struktur itu dikuasai maka banyak hal lain yang berhubungan dengan itu dapat dipahami maknanya, memahami struktur akan mempengaruhi cara berfikir seseorang sepanjang hidupnya karena ditransfer ke hal-hal lain”.

Sedangkan menurut N. Daljoeni (1999:97) Ekonomi didefinisikan sebagai ”Study pengetahuan yang membahas bagaimana manusia memproduksi, menukarkan dan mendistribusikan sebagai barang dan jasa yang di butuhkan”.

Adapun isi mata pelajaran IPS Ekonomi di SLTP dan Petunjuk Teknis Depdikbud (1994:90) meliputi bahan kajian sebagai berikut:

a. Faktor dan kenyataan keadaan dan peristiwa ekonomi, misalnya kekayaan alam Indonesia dan jumlah penduduk yang besar yang menguntungkan dan dapat merugikan.

b. Pengenalan fakta dan peristiwa ekonomi yang disajikan dengan teori-teori sederhana.

c. Masalah-masalah ekonomi didalam masyarakat yang dikaitkan dengan usaha meningkatkan taraf hidup semua warga negara Indonesia.

d. Tujuan, proses dan hasil pembangunan nasional.

Bahan kajian mata pelajaran IPS Ekonomi tersebut dilakukan secara terpadu dan bertolak dari pemilihan pendekatan, metode media, dan sumber-sumber belajar serta alokasi waktu yang tersedia. Hal diatas sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Muhammad Ali (1989:29-37) yang menyatakan bahwa: proses pengajaran itu merupakan suatu rangkaian kegiatan yang bertujuan, yakni bertujuan dalam suasana yang menyenangkan peserta didik dan mewujudkan pencapaian hasil belajar yang tinggi.

3. Pendekatan SAVI.

Menurut Meier (2000:91) pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan Aktifitas Intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.

H. Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan

1. Kerangka Teori.

a. Penelitian Tindakan Kelas

1) Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) disebut dengan classroom action research. Penelitian Tindakan Kelas dapat didepenisikan sebagai suatu entuk kajian yang bersifat refleksi oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dan tindakan-tindakan mereka dlam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan (Stephen Kemmis: 1993:44)

Selain itu menurut Rustam Mundilarto, Penelitian Tindakan Kelas adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. PTK memiliki karakteristik sebagai berikut:

a) Masalah berawal dari guru.

b) Tujuannya memperbaiki pembelajaran.

c) Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian.

d) Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran.

e) Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.

Berdasarkan defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, bertujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa meningkat untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. PTK itu dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri dari 4 tahap.

Secara singkat dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Merencanakan Melakukan Tindakan

Mengamati Merefleksi

Gambar 1: Kajian Berdaur A Tahap PTK.

PTK dimulai dengan adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan perilaku belajar siswa. Langkah menemukan masalah dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk tindakan perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi.

Keempat langkah utama dalam PTK yaitu merencanakan, melakukan tindakan perbaikan, mengamati, dan refleksi merupakan satu siklus dan dalam PTK siklus selalu berulang. Setelah satu siklus selesai, barangkali guru akan menemukan masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas dipecahkan, dilanjutkan ke siklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus pertama. Dengan demikian, berdasarkan hasil tindakan atau pengalaman pada siklus pertama guru akan kembali mengikuti langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi pada siklus kedua. Keempat langkah dalam setiap siklus dapat digambarkan sebagai berikut.

GAMBAR SIKLUS PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

R1

L1

L2

M1

L2

R2

M3

R3

M2

Keterangan:

M = Merencanakan

L = Melaksanakan

R = Refleksi

Sumber: Rustam Mundilarto Tahun 2004

Gambar 2: Alur Pelaksanaan Tindakan Kelas

Berdasarkan gambar diatas menunjukkan bahwa sebelum melaksanakan tindakan peneliti terlebih dahulu harus merencanakan secara bersama jenis tindakan yang akan dilakukan, setelah rencana disusun secara matang barulah tindakan dilakukan, bersamaan dengan dilaksanakannya tindakan, peneliti mengamati proses penelitian dan berdasarkan hasil, penelilti kemudian melakukan refleksi atas tindakan yang dilakukan.

2) Prosedur Penelitian Tindakan Kelas

Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri dari beberapa tahap. Tahap-tahap yang ditempuh dalam kegiatan ini terdiri atas:

a) Monitoring proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

b) Identifikasi temuan masalah.

c) Mendiskusikan cara-cara pemecahan masalah dan menentukan langkah tindakan mengatasinya.

d) Rencana tindakan.

e) Melakukan observasi pelaksanaan tindakan dan refleksi.

Berdasarkan konsep diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode penelitian tindakan kelas adalah suatu metode yang bertujuan melakukan tindakan perbaikan, peningkatan dan juga melakukan suatu perubahan kearah yang lebih baik dari sebelumnya agar suatu permasalahan dapat diatasi.

b. Metode Examples Non Examples

1) Pengertian Model Examples Non Examples

Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus atau gambar yang relevan dengan KD.

2) Langkah-Langkah Model Examples Non Examples

a). Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

b). Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.

c). Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan atau menganalisa gambar.

d). Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dan analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.

e). Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.

f). Mulai dari komentar atau hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

g). Kesimpulan.

3) Kebaikan dan Kekurangan Model Examples Non Examples

a). Kebaikan Model Examples Non Examples

- Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.

- Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.

- Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

b). Kekurangan Model Examples Non Examples

- Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.

- Memakan waktu yang lama.

c. Pendekatan SAVI.

1) Pengertian Pendekatan SAVI.

Menurut Meier (2000:91) pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.

Unsur-unsur SAVI, yaitu:

Somatis : Belajar dengan bergerak dan berbuat.

Auditori : Belajar dengan berbicara dan mendengar.

Visual : Belajar dengan melihat dan mengamati.

Intelektual : Belajar dengan memecahkan masalah dan berfikir.

a) Belajar Somatis

”Somatis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh-soma. Menurut Meier (2000:92), belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis-melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar.

Namun, dalam pembelajaran di sekolah terdapat pemisahan antara tubuh dan pikiran, sehingga yang berlakuu adalah ”duduk manis, jangan bergerak, dan tutup mulut”, karena menurutnya belajar hanya melibatkan otak saja. Kini, pemisahan tubuh dan pikiran dalam belajar mengalami tantangan serius, karena penelitian neurologi menemukan bahwa ”Pikiran tersebar di seluruh tubuh” atau pada intinya, tubuh adalah pikiran, dan pikiran adalah tubuh. (Meier,2000:93). Jadi, dengan menghalangi pembelajar somatis menggunakan tubuh mereka sepenuhnya dalam belajar, kita menghalangi fungsi pikiran mereka sepenuhnya.

b) Belajar Auditori

Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa disadari. Ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak kita menjadi aktif.

Dalam merancang pembelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang kuat dalam pikiran pmbelajar, dapat dilakukan dengan cara mengajak mereka membicarakan apa yang sedang mereka pelajari. Guru dapat menyuruh siswa menerjemahkan pengalaman mereka dengan suara, membaca dengan keras atau secara dramatis jika mereka mau, ajak mereka berbicara saat mereka memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi, membuat rencana kerja, menguasai keterampilan, membuat tinjauan pengalaman belajar, atau menciptakan makna-makna pribadi bagi diri mereka sendiri.

c) Belajar Visual

Ketajaman visual, meskipun lebih menonjol pada sebagian orang, sangat kuat dalam diri setiap orang. Alasannya adalah bahwa di dalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada semua indra yang lain. (Meier,2000:97). Setiap orang (terutama pembelajar visual) lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang sedang dibicarakan. Pembelajar visual belajar paling baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon, gambar, dan gambaran dari segala macam hal ketika sedang belajar. Dan kadang-kadang mereka dapat belajar lebih baik lagi jika mereka menciptakan peta gagasan, diagram, ikon, dan citra mereka sendiri dari hal yang sedang dipelajari. Teknik lain yang bisa dilakukan semua orang, terutama orang-orang dengan keterampilan visual yang kuat, adalah meminta mereka mengamati situasi dunia nyata lalu memikirkan serta membicarakan situasi itu, menggambarkan proses, prinsip, atau makna yang dicontohkan.

d) Belajar Intelektual

Yang dimaksud dengan Intelektual bukanlah pendekatan belajar yang tanpa emosi, tidak berhubungan, rasionalitas, akademis, dan terkotak-kotak. (Meier,2000:99). Intelektual menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut. Intelektual adalah bagaian dari yang merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna.

Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran; sarana yang digunakan manusia untuk berfikir, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru, dan belajar.

S-A-V-I : Satukanlah

Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI dalam satu peristiwa pembelajaran. Misalnya, orang dapat belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi mereka dapat belajar jauh lebih banyak jika mereka dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S), membicarakan apa yang sedang mereka pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi dalam presentasi tersebut pada pekerjaan mereka (I). Atau, mereka dapat memecahakan masalah (I) jika mereka secara simultan menggerakkan sesuatu (S) untuk menghasilkan pictogram atau pajangan tiga dimensi (V) sambil membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan.

DIarsipkan di bawah: Tugas Kuliah

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS VII.1 SMP NEGERI 212 JAKARTA MELALUI MODEL PEMBELAJARANCOOPERATIVE LEARNING TYPE JIGSAW II
DALAM POKOK BAHASAN PERSAMAAN
LINEAR SATU VARIABEL

DISUSUN OLEH :
LASMI SIRAIT
NIP. 131 116 833

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA ( SMP ) NEGERI 212
JL. BENBDA ATAS CILANDAK TIMUR PASARMINGGU JAKSEL TELP 7800417

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………….
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………..
BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………………….
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………………
B. Permasalahan ………………………………………………………………….
C. Tujuan Penelitian …………………………………………………………….
D. Manfaat Penelitian ………………………………………………………….
E. Sistematika Penulisan Skripsi…………………………………………….
BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN ………..
A. Landasan Teori………………………………………………………………….
1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
dalam Pembelajaran ………………………………………………..
2. Proses Pembelajaran Model Cooperative Learning Type
Jigsaw II dalam Pembelajaran Matematika ………………..

!!

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran matematika di sekolah disarankan menggunakan pendekatan PAKEM. Pembelajaran dengan model PAKEM di sekolah masih merupakan barang langka. Hal ini dapat mengakibatkan anak tidak gemar matematika.
Pembelajaran kelompok tidak menjamin siswa aktif. Keaktifan siswa dalam belajar perlu dibangun oleh seorang guru. Mesin pembangkit keaktifan merupakan seperangkat tugas dan pertanyaan yang mewakili rantai kognitif.
Jika siswa dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar, siswa akan menemukan konsep, prinsip, pola, teknik menghitung, dan bahkan solusi masalah. Di sini siswa terlibat, sehingga mereka merasa senang, tumbuh motivasi, dan yakin bahwa belajar matematika itu perlu bagi dirinya.
Sering terjadi guru dalam membangun proses pembelajaran belum tuntas. Dalam kondisi ini guru melangkah ke materi berikutnya. Pasti akan terjadi kesulitan siswa dalam belajar. Ini mengakibatkan siswa berpendapat bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit. Oleh karena itu, sering kali terjadi taraf ketuntasan pada pelajaran matematika rendah terutama pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel. Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran terutama pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel yang terdapat pada SMP Negeri 212 Jakarta Tahun Pelajaran 2009/2010 masih kurang mendapat perhatian dari siswanya. Oleh karena, itu peneliti mencoba mengadakan observasi dengan membagi angket/brosur. Berdasarkan hasil informasi dari guru matematika sebelumnya dan dengan melihat hasil wawancara siswa pada tahun pelajaran 2009/2010 itu (pedoman wawancara terlampir pada lampiran 2) maka disimpulkan bahwa kelemahan mereka adalah sebagai berikut.
1. Rendahnya aktivitas (keterlibatan) siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Hal ini dapat ditunjukkan dengan sikap tidak mau menjawab dan tidak mau bertanya
bila diberikan soal oleh guru.
2. Kurangnya minat mengerjakan soal-soal pada diri siswa. Hal ini dapat ditunjukkan
dengan adanya siswa yang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah.
3. Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Hal ini ditunjukkan dengan adanya pada saat siswa mengerjakan soal di kelas, guru tidak/kurang mengadakan pendekatan dengan siswa yang mengalami kesulitan.
4. Rendahnya tingkat ekonomi, sehingga tidak menunjang pendidikan . Hal ini dapat ditunjukkan dengan tidak adanya siswa yang mempunyai buku pegangan selain dari sekolah ataupun LKS. Sehubungan dengan itu, maka peneliti mempunyai beberapa
alasan untuk terus mencari cara-cara yang baik dan benar dalam pembelajaran pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel. Menurut Dewan Nasional Guru-guru Matematika di Amerika pada tahun 1989 dalam bukunya “Bruce Cambell “ yang diterjemahkan Kelompok Intuisi (2004:43) menyatakan: Pembelajaran seharusnya menggunakan kedua potensi siswa, baik intelektual maupun fisik. Mereka harus menjadi pengajar yang aktif, ditantang untuk menerapkan pengetahuan utama dan pengalaman baru mereka serta makin bertambahnya situasi-situasi yang lebih sulit. Berbagai pendekatan pembelajaran daripada sekedar mengirimkan
informasi kepada mereka untuk diterimanya. Selanjutnya, peneliti mencoba untuk mengubah sikap siswa yang tradisional dari pasif menjadi pelajar yang aktif. Guru dapat menemukan
sesuatu yang bernilai dari sub bab atau soal yang akan diberikan dan dikerjakan oleh siswanya.
Sedangkan alasan peneliti tertarik memilih cara pembelajaran kooperatif dengan tipe Jigsaw II dalam melakukan penelitian adalah sebagai berikut.
1. Siswa dilatih keterampilan-keterampilan yang spesifik untuk membantu sesama temannya bekerja sama dengan baik.
2. Adanya pengakuan atau ganjaran kecil yang harus diberikan kepada kelompok yang kinerjanya baik.
3. Meningkatkan prestasi siswa melalui kesempatan bekerja sama dalam satu kelompok kecil.

B. Permasalahan
Pada penelitian tindakan kelas ini yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut.“Apakah dengan menerapkan model pembelajaran cooperative learning type Jigsaw II dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII. 1 SMP Negeri 212 Jakarta pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel tahun pelajaran 2009/2010?”

C. Tujuan Penelitian
Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII. 1 SMP Negeri 212 Jakartapada pokok bahasan persamaan linear satu variabel.

D. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat kepada banyak pihak antara lain siswa, guru dan sekolah.
1. Manfaat yang diperoleh siswa.
a. Siswa merasa senang terhadap matematika terutama pada pokok bahasan persamaan
linear satu variabel.
b. Prestasi siswa meningkat.
c. Siswa mampu dan terampil dalam menyelesaikan soal yang berhubungan pada pokok
bahasan persamaan linear satu variabel.
2. Manfaat yang diperoleh guru.
a. Guru akan memiliki kemampuan penelitian tindakan kelas yang lebih inovatif.
b. Guru semakin kreatif dalam pengembangan materi pelajaran.
c. Memberikan kesempatan guru untuk lebih menarik perhatian siswa dalam proses belajar
mengajar.
2
3. Manfaat bagi sekolah.

a. Sekolah dapat memasukkan cara penelitian ini dalam kelas.
b. Dapat meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah.
c. Sekolah dapat dijadikan sebagai sekolah yang bermutu di antara sekolah lain.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu: bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir.
1. Bagian awal
Pada bagian awal penulisan memuat beberapa halaman yang terdiri dari halaman judul,
daftar isi dan daftar lampiran.
2. Bagian isi
Bagian isi memuat lima bab yaitu sebagai berikut.
Bab I. Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II. Landasan Teori dan Hipotesis Tindakan
Bab ini berisi landasan teoritis tentang model pembelajaran kooperatif, proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II, uraian materi persamaan linear satu variabel, kerangka berpikir dan hipotesis tindakan.
Bab III. Metode Penelitian
Bab ini membahas tentang lokasi penelitian, subjek penelitian, siklus penelitian, sumber data dan cara pengumpulan data, serta tolok ukur keberhasilan. Siklus penelitian terdiri dari tiga siklus, dan tiap siklus memuat empat tahapan yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Bab IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab ini membahas pelaksanaan siklus 1, siklus 2, dan siklus 3.
Bab V. Penutup
Bab ini memuat simpulan hasil penelitian dan saran-saran yang operasional dan relevan dalam pembelajaran.
3. Bagian akhir
Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

3
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Landasan Teori
1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) dalam Pembelajaran
Guru dalam kegiatan belajar mengajar tidak harus terpaku dengan menggunakan satu model. Guru sebaiknya juga menggunakan model yang bervariasi agar jalannya pembelajaran tidak membosankan tetapi menarik perhatian anak didik. Menurut Kiensmen (1992) dalam kurikulum 2004 (2003:2) suatu model pembelajaran terdapat ciri-ciri sebagai berikut:
(1) adanya penjelasan teoritik, ilmiah dan penemuan,
(2) adanya tujuan yang akan dicapai,
(3) adanya tingkah laku guru dan siswa yang khusus, dan
(4) dalam model pembelajaran diperlukan suatu kondisi yang khusus.
Oleh karena itu, seorang guru harus kompeten dalam memilih suatu model pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran. Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada pengajaran di mana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil yang saling membantu dalam belajar.
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu teknik instruksional yang diteliti secara cermat di Amerika Serikat. Ada banyak model, teori dan sumber dengan perspektif yang bermacam-macam dalam pembelajaran kooperatif. Beberapa buku yang membahas masalah ini adalah Circle of Learning, Learning Together and None, karya David dan Roger, ditambah Cooperative in The Classroom, kemudian Spencer Kagan dalam bukunya Cooperative Learning: Resources for Teacher.
Menurut Johnson bersaudara komponen penting dari model cooperative learning meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Pertanggungjawaban individual
Keberhasilan kelompok didasarkan pada kemampuan setiap anggota untuk menunjukkan bahwa dia telah belajar materi-materi yang sangat dibutuhkan. Pencapaian siswa terlihat meningkat ketika diketahui keberhasilan kelompok yang didasarkan pada nilai quiz anggota kelompok digabungkan.
b. Ketergantungan positif
Keberhasilan kelompok didasarkan atas kemampuan kelompok itu dalam bekerja sama untuk meraih hasil yang diinginkan, misalnya tingkatan penghargaan dan ketenaran (pengakuan).
Ketika siswa mulai mempelajari keterampilan-keterampilan kooperatif, kelompok itu haruslah kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 5 anak. Menurut Slavin (dalam Amin Suyitno), sejalan dengan perkembangan keterampilan sosial, siswa diharapkan mulai mampu

4
bekerja sama dalam kelompok yang lebih besar. Penting juga untuk melihat lamanya waktu kelompok itu dalam bekerja sama. Pertemuan kelompok yang teratur dalam jangka waktu tertentu akan dapat meningkatkan kesuksesan dari pada kelompok yang hanya bekerja sama kadang-kadang saja.

Aktivitas pembelajaran kooperatif dapat memerankan banyak peran dalam pelajaran. Dalam skenario yang lain, kelompok kooperatif dapat juga digunakan untuk memecahkan sebuah masalah kompleks.
2. Proses Pembelajaran Model Cooperative Learning Tipe Jigsaw II dalam Pembelajaran
Matematika
Langkah model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw II adalah sebagai berikut: (1) siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen (4 sampai 5 siswa). Setiap kelompok diberi materi/soal-soal tertentu untuk dipelajari/dikerjakan, (2) ketua kelompok membagi materi/tugas guru agar menjadi topik-topik kecil (sub-sub soal) untuk dipelajari/dikerjakan oleh masing-masing anggota kelompok (misalnya, setiap siswa dalam 1 kelompok mendapat 1 soal yang berbeda), (3) anggota kelompok yang mempelajari sub-sub bab atau soal yang sama bertemu untuk mendiskusikan sub-bab (atau soal) tersebut sampai mengerti benar isi dari sub bab tersebut atau cara menyelesaikan soal tersebut, (4) kemudian siswa itu kembali ke kelompok asalnya dan bergantian mengajar teman dalam satu kelompoknya, dan (5) kegiatan diakhir dengan memberikan kuis kepada siswa.
C. Uraian Materi
1. Mengenal Persamaan Linear Satu Variabel dalam Berbagai Bentuk
a. Pernyataan
Pernyataan adalah kalimat yang bernilai benar atau salah.
Contoh:
(1) Pernyataan 5 + 4 = 9 bernilai benar.
(2) Pernyataan 3 x 4 = 10 bernilai salah.
b. Kalimat Terbuka
Kalimat terbuka adalah kalimat yang memuat suatu variabel.
Contoh:
(1) Kalimat x + 4 = 9 belum mempunyai nilai kebenaran.
(2) Kalimat 2 + 4p = 14 juga belum mempunyai nilai kebenaran.

5
Kalimat x + 4 = 9 dan 2 + 4p = 14 disebut persamaan. Jika x diganti 5
dan p = 3 diperoleh 5 + 4 = 9 dan 2 + 12 = 14 maka keduanya bernilai
benar. Sedangkan 5 disebut solusi (selesaian) x + 4 = 9 dan 3 disebut
solusi (selesaian) 2 + 4p = 14.
c. Persamaan Linear dengan Satu Variabel
Persamaan linear dengan satu variabel adalah persamaan dengan satu variabel dan berpangkat satu.
Contoh:
(1) Persamaan 4x – 9 = 11 merupakan persamaan linear dengan satu variabel.
(2) Persamaan x2 = 16, ini bukan merupakan persamaan linear dengan satu variabel.

2. Menentukan Solusi (Selesaian) Persamaan Linear dengan Satu Variabel
(1) Tentukan solusi (selesaian) persamaan linear dengan satu variabel x + 4 = 8.
Penyelesaian:
Jelas x + 4 = 8 ⬄ x = 4.
Jadi 4 adalah solusi (selesaian) x + 4 = 8.
(2) Tentukan solusi (selesaian) Persamaan linear dengan satu variabel
x – 3 = 2.
Penyelesaian:
Jelas x – 3 = 2 ⬄ x = 5.
Jadi 5 adalah solusi (selesaian) x – 3 = 2
(3) Tentukan solusi (selesaian) persamaan linear dengan satu variabel
2x = 20.
Penyelesaian:
Jelas 2x = 20 ⬄ x = 10
Jadi 10 merupakan solusi (selesaian) 2x = 20.
3. Menentukan Solusi (Selesaian) Persamaan Linear dengan Satu Variabel
pada Soal Cerita
Contoh:
a. Umur Andi sekarang adalah 2 kali umur Budi. Jumlah umur mereka
sekarang adalah 18 tahun. Tentukan umur mereka masing-masing.
Penyelesaian:
Tulis x = umur Budi.
Jelas 2x = umur Andi.
Dipunyai 2x + x = 18
⬄ 3x = 18
⬄ x = 6.
Jadi umur Budi adalah 6 tahun dan umur Andi adalah 12 tahun.

6
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian dari landasan teori dan kerangka berpikir maka
hipotesis tindakan yang akan diajukan adalah sebagai berikut.
“Melalui model pembelajaran Cooperative Learning type Jigsaw II dalam
pokok bahasan persamaan linear satu variabel maka hasil belajar siswa kelas
VII.1 SMP Negeri 212 Jakarta tahun pelajaran 2009-2010 dapat ditingkatkan”.

7

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Tempat penelitian adalah SMP Negeri 212 Jakarta yang beralamat di Jl. Benda Atas Cilandak Timur Pasarminggu Jakarta Telp. (021) 7800417. Penelitian dilakukan di tempat ini dikarenakan penulis adalah sebagai pengajar di SMP tersebut.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas VII .1 SMP Negeri 212 Jakarta tahun pelajaran 2009-2010 Adapun jumlah siswanya adalah 40 anak yang terdiri dari 21 siswa perempuan dan 19 siswa laki-laki.

C. Prosedur Kerja dalam Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Dalam setiap tahapan siklus disusun dan dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai.

Siklus I

1. Perencanaan
a. Menyusun rencana pembelajaran pokok bahasan persamaan linear satu variabel.
b. Merencanakan pembelajaran dengan membentuk kelompok yang beranggotakan 4-5
siswa dengan penyebaran tingkat kecerdasan.
c. Menyusun materi/soal
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan skor untuk individual atau skor kelompok.
2. Tindakan
a. Guru membagi dalam kelompok–kelompok kecil yang heterogen (4-5 siswa).
b. Guru membagi materi/soal untuk dipelajari/dikerjakan.
c. Guru menyuruh ketua kelompok membagi materi atau soal agar menjadi topik-topik
kecil (sub-sub) soal untuk dikerjakan oleh masing-masing anggota kelompok.
d. Guru menyuruh anggota kelompok yang mempelajari sub-sub bab atau soal yang sama
bertemu untuk mendiskusikan soal tersebut serta cara menyelesaikannya.
e. Guru menyuruh siswa kekelompok asalnya dan bergantian mengajar teman dalam satu
kelompoknya.
f. Guru memberikan kuis secara individu.
g. Guru memberikan penghargaan bagi siswa atau tim yang berprestasi.
8
3. Pengamatan
Dalam penelitian tindakan kelas ini, pengamatan dilaksanakan dengan beberapa aspek yang diamati adalah sebagai berikut.
a. Pengamatan terhadap siswa
1) Kehadiran siswa.
2) Perhatian siswa terhadap guru yang menerangkan.
3) Jumlah siswa yang bertanya.
4) Aktivitas siswa bekerja sama dalam satu kelompok.
5) Antusias siswa untuk bekerja secara individual setelah bekerja sama.
b. Pengamatan terhadap guru
1) Kehadiran guru.
2) Penampilan guru di depan kelas dan mengelola kelas.
3) Penguasaan materi seorang guru.
4) Cara guru membagi kelompok yang beranggotakan 4 siswa dalam satu kelompok.
5) Cara penguatan guru terhadap kelompok yang berprestasi kinerjanya.
6) Pemberian bimbingan pada kelompok yang belum mampu bekerja sama dengan baik.
c. Sarana dan prasarana
Keadaan dan situasi kelas yang menyenangkan akan membantu
dalam proses penelitian ini. Penataan tempat duduk dalam membagi
kelompok tiap kelompok pun sangat membantu sekali. Setiap anak
dalam satu kelompok diharapkan harus sudah memiliki buku pegangan
untuk menunjang pelajaran.

4. Refleksi
Setelah siswa benar-benar menguasai pelajaran persamaan linear satu
variabel maka diadakan kuis. Kuis tersebut untuk perorangan/invidual guna
menambah poin skor kelompok.Penghargaan pada kelompok yang baik
kerja samanya harus diberikan agar mereka betul-betul dihargai. Pada tiap
akhir kegiatan diadakan evaluasi.

Siklus II
1. Perencanaan
a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah berdasarkan refleksi pada siklus I.
b. Merencanakan skenario baru dengan perbaikan model dan meningkatkan keaktifan
siswa.
c. Menyusun materi atau soal
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.

9
2. Implementasi Tindakan
a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.
c. Memberikan kuis akhir siklus II.

3. Pengamatan
Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengadakan pendataan ulang untuk mengetahui hasil dari tindakan sklus II. Penulis menyiapkan angket observasi yang dilakukan dengan data pengukur.

4. Refleksi
Guru menganalisis semua tindakan pada siklus I dan II kemudian dicari kekurangan-kekurangan pada siklus II.

Siklus III
1. Perencanaan
a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah yang didasarkan pada siklus I dan
siklus II.
b. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
c. Menyusun lembar kegiatan siswa (LKS).
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.
2. Implementasi Tindakan
a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.
c. Memberikan kuis akhir siklus III.

3. Pengamatan
Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengadakan pendataan ulang untuk mengetahui hasil dari tindakan siklus III. Penulis menyiapkan angket observasi yang dilakukan dengan data pengukur.

4. Refleksi
Guru menganalisis semua tindakan pada siklus I, II, dan III. Pada
akhir siklus III, guru melakukan refleksi dengan adanya penerapan tipe Jigsaw II yang dilakukan dalam tindakan kelas ini. Bila hasilnya meningkat artinya model pembelajaran yang diterapkan dalam tindakan ini berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa.

D. Sumber Data dan Cara Pengambilan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini melalui angket dan wawancara serta hasil tes tertulis. Cara pengambilan data melalui lembar kegiatan siswa (LKS) setiap siklus atau nilai-nilai tes formatif tiap siklus.

10
E. Tolok Ukur Keberhasilan
Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Secara individu bila mereka sudah dapat mencapai 6,0 atau lebih, berarti sudah menyerap
materi yang diajarkan sebesar 60% atau lebih dikatakan tuntas belajar.
b. Jumlah siswa dalam kelas dapat menyerap materi paling sedikit 70% dari jumlah siswa
keseluruhan dengan nilai rata-rata kelas mencapai ≥ 70.

11
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Siklus I
Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 2 November 2009 tentang pernyataan, kalimat terbuka, dan himpunan selesaian kalimat terbuka. Pada siklus pertama ini, penulis melaksanakan kegiatan sebagai berikut.
1. Perencanaan
Sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), maka yang dilakukan guru adalah sebagai berikut.
a Menyusun rencana pembelajaran pokok bahasan persamaan linear satu variabel.
b Merencanakan pembelajaran dengan membentuk kelompok yang beranggotakan 4 – 5 siswa dengan penyebaran tingkat kecerdasan.
c Menyusun materi/soal
d Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e Merencanakan skor untuk individual atau skor kelompok.
Setelah perencanaan ini tertata dengan baik maka yang dilakukan selanjutnya adalah melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan perencanaan di atas.
2. Tindakan
Tindakan guru selanjutnya adalah melaksanakan prosedur yang sudah direncanakan yaitu sebagai berikut.
a. Guru membagi dalam kelompok–kelompok kecil yang heterogen (4-5 siswa).
b. Guru membagi materi/soal untuk dipelajari/dikerjakan.
c. Guru menyuruh ketua kelompok membagi materi atau soal agar menjadi topik-topik kecil
(sub-sub) soal untuk dikerjakan oleh masing-masing anggota kelompok.
d. Guru menyuruh anggota kelompok yang mempelajari sub-sub bab atau soal yang sama bertemu untuk mendiskusikan soal tersebut serta cara menyelesaikannya.
e. Guru menyuruh siswa kekelompok asalnya dan bergantian mengajar teman dalam satu kelompoknya.
f. Guru memberikan kuis secara individu.
g. Guru memberikan penghargaan bagi siswa atau tim yang berprestasi.
3. Pengamatan
Pada siklus I pengamatan dilaksanakan dengan beberapa aspek yang diamati.

Partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) selama siklus pertama digambarkan dengan tebel berikut ini.

12
Siklus I
Partisipasi siswa Jumlah Siswa Prosentase
Acuh 12 29,27%
Sedang 13 31,73%
Aktif 15 30%
Jumlah 40 100%

Pada siklus I keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran tergolong meningkat. Hal ini dibuktikan dengan adanya keaktifan siswa dalam pembelajaran yang pro aktif dibandingkan dengan cara/model pembelajaran sebelumnya.
Siswa yang acuh pada siklus I berjumlah 12 orang atau 29,27 %.
Siswa yang tergolong sedang tingkat partisipasinya berjumlah 13 orang atau 31,73 %, dan yang tergolong aktif berjumlah 15 orang atau 30 %.
Data ini menunjukkan bahwa adanya perubahan tingkat partisipasi belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya.
Pada siklus I ini, siswa yang aktif masih dinilai kurang karena baru 30 %. Pada umumnya, siswa yang acuh disebabkan karena mereka kurang paham terhadap tugas yang harus dilakukan. Oleh karena itu, siswa yang acuh terus diberi motivasi untuk lebih semangat dalam proses pembelajaran, yaitu melalui pendekatan dan bimbingan khusus. Sedangkan siswa yang sedang tingkat partisipasinya diberikan pula
motivasi agar lebih aktif yaitu dengan cara diberikan nilai bonus apabila bersungguh-sungguh dan bisa dalam mengerjakan tugas kelompok.

4. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I maka perlu diadakan perbaikan diantaranya sebagai berikut.
a. Mengeraskan suara pada saat menerangkan pelajaran.
b. Memberikan penguatan dan penghargaan pada kelompok yang berprestasi kinerjanya.
c. Meberikan bimbingan pada kelompok yang belum mampu bekerja sama dengan baik.
d. Memberikan kuis yang berkaitan dengan pokok bahasan ini.
Tujuannya untuk menggugah kreatifitas siswa dalam bekerja sama.

B. Pelaksanaan Siklus II
Siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 9 November 2009. Pada siklus II ini membahas tentang persamaan dan himpunan selesaian persamaan dengan satu variabel. Sebelum melaksanakan siklus II ini, penulis mengadakan kegiatan sebagai berikut.
1. Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan pada siklus II ini adalah sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah berdasarkan refleksi pada siklus I.
b. Merencanakan skenario baru dengan perbaikan model dan meningkatkan keaktifan siswa.
13
c. Menyusun materi atau soal.
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.
2. Tindakan
Setelah perencanaan itu disusun maka langkah berikutnya adalah melaksanakan beberapa tindakan, diantaranya sebagai berikut.
a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.
c. Memberikan kuis akhir siklus II.
3. Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan pada siklus II ini meliputi beberapa aspek yaitu sebagai berikut.
a. Pengamatan terhadap siswa
Pengamatan yang dilakukan pada siklus II ini ternyata keadaan siswa berbeda dengan siklus I. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini.

Siklus I Siklus II
Partisipasi Siswa Jumlah Siswa Prosentase Partisipasi Siswa Jumlah Siswa Prosentase
Acuh 12 30 % Acuh 8 20 %
Sedang 13 32,50 % Sedang 10 25 %
Aktif 15 37,50 % Aktif 22 55,50 %
Jumlah 40 100% Jumlah 40 100%

Perhatian siswa terhadap guru yang menerangkan mengalami peningkatan. Siswa yang dulunya acuh terhadap pelajaran yang sedang disampaikan oleh gurunya kini mulai aktif. Siswa yang acuh dari 12 orang kini mengalami penurunan dan jumlahnya hanya 8 orang.
Proses KBM berjalan lebih efektif. Hal ini terlihat dari antusias siswa yang aktif dalam menerima materi. Siswa banyak yang aktif untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru atau temannya. Pada siklus II ini siswa yang menjawab dengan benar dari 10 soal yang diberikan mulai mengalami peningkatan. Pada siklus I yang menjawab benar baru 15 anak, tetapi pada siklus II naik menjadi 22 anak.

b. Sarana dan prasarana
Siswa pada siklus II sudah mulai aktif untuk melengkapi kebutuhan yang menunjang proses KBM. Mereka meminjam buku- buku matematika di perpustakaan atau pada teman. Hal ini tampak pada saat KBM berlangsung, siswa sudah menyiapkan sumber bahan pelajaran yang akan dipelajarinya.

4. Refleksi
Setelah melihat hasil pengamatan yang dilakukan maka ada beberapa hal yang perlu diadakan
14
perbaikan di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Memberikan motivasi dan penguatan pada kelompok yang bagus kinerjanya.
b. Memberikan sanksi pada kelompok yang masih bergurau.
c. Memberikan kuis agar kreatifitas anak lebih maju lagi.

C. Pelaksanaan Siklus III
Siklus III dilaksanakan pada tanggal 24 November 2009 dan membahas tentang penyelesaian persamaan linear satu variabel dalam bentuk soal cerita. Pada siklus III ini, penulis melaksanakan kegiatan yang menunjang proses ini, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Perencanaan
Perencanaan dilakukan sebelum melaksanakan KBM. Hal-hal yang dilakukan dalam perencanaan adalah sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah yang didasarkan pada siklus I dan siklus II
b. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
c. Menyusun lembar kegiatan siswa (LKS).
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.
2. Tindakan
Setelah perencanaan tersusun dengan baik, maka tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut.
a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.
c. Memberikan kuis akhir siklus III.
3. Pengamatan
Keadaan siswa pada siklus III ini jauh lebih baik dibanding siklus sebelumnya. Hal ini dapat diperlihatkan dari tabel berikut ini.

Partisipasi Siswa Siklus I Siklus II Siklus III
Jumlah
Siswa
Persentase Jumlah
Siswa
Persentase Jumlah
Siswa
Persentase
Acuh 12 30 % 8 20 % 3 7,31 %
Sedang 13 32,50 % 10 25 % 8 19,51 %
Aktif 15 37,50 % 22 55 % 30 73,18 %
Jumlah 40
100 %
40 100 % 41 100 %

15
Dari tabel tersebut terlihat bahwa proses KBM berjalan lebih efektif. Masing-masing anggota dalam satu kelompok sudah bisa menempatkan posisinya. Kerja sama antar kelompok lebih maksimal.
Siswa yang acuh pada siklus III tinggal 3 orang atau 7,31%, siswa yang sedang tingkat partisipasinya ada 8 orang atau 19,51%, dan yang aktif berjumlah 30 orang atau 73,18%. Ini menunjukkan adanya peningkatan siswa yang aktif tingkat partisipasinya pada siklus III sebesar 17,08% dari siklus II.

4. Refleksi
Pada siklus III ini, ternyata sudah tidak perlu perbaikan-perbaikan lagi sebab dengan adanya model pembelajaran Cooperative Learning tipe
Jigsaw II ini hasil prestasi siswa meningkat.

D. Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil penelitian pada tiap siklus ditunjukkan dengan tabel berikut ini.
Prestasi
Siswa
Siklus I Siklus II Siklus III

∑ Persentase ∑ Persentase ∑ Persentase
Nilai ≤ 60
14 34,14 10 24,39 6 14,63
Nilai > 60
27 65,86 31 75,61 35 85,37
Tuntas Belajar 27 65,86 31 75,61 35 85,37
Tidak Tuntas Belajar 14 34,14 10 24,39 6 14,63
Nilai Rata-rata 275:41 6,7 289:41 7,1 300:41 7,3
Taraf Serap 76/10×100@ 67 % 1,7/10×100% 71 3,7/10×100% 73

Dengan melihat tabel tingkat prestasi siswa diketahui pada siklus III mengalami peningkatan dibandingkan siklus I dan siklus II. Jika melihat data ketuntasan belajar, maka terdapat 14 siswa yang belum tuntas pada siklus I, 10 siswa pada siklus II, dan 6 siswa pada siklus III. Pada siklus III, siswa yang tuntas belajarnya berjumlah 35 orang atau 85,37%.

16

Ketuntasan belajar siswa tiap siklus dapat dilihat dengan diagram batang sebagai berikut
Diagram Ketuntasan

DIAGRAM KETUNTASAN BELAJAR SISWA SMPN 212 JAKARTA
KELAS VII. 1

Ketuntasan dapat tercapai dikarenakan adanya keterlibatan guru atau pendekatan guru kepada siswa untuk menanyakan kesulitan dalam mengerjakan soal-soal. Kreatifitas guru dalam memberikan kuis dan pemberian semangat kepada siswa akan memacu siswa untuk senang siap dan lebih berpengalaman dalam proses KBM sehingga hasil nilai lebih baik.

17
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) di kelas VIIF SMP N 212 Jakarta pada tahun pelajaran 2009-2010 dapat disimpulkan bahwa dengan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw II dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VII .1 pada pokok bahasan persamaan linear dengan satu variabel.
B. Saran
Dari pengalaman selama melaksanakan penelitian tindakan kelas di kelas VII .1 SMP N 212 Jakarta pada tahun pelajaran 2009-2010 dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut.
1. Dalam pembelajaran matematika pokok bahasan persamaan linier dengan satu variabel hendaknya menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning melalui tipe Jigsaw II.
2. Hasil penelitian ini hendaknya dapat digunakan untuk refleksi bagi guru dari kepala sekolah.
3. Kepala sekolah diharapkan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan pola pembelajaran di sekolah.

18

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Bruce. 2004. Teaching and Learning Trough, Multiple Inteligences. Jakarta: Intuisi Press.
Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Kagan, Spencer. 2003. Cooperative Learning Resources for Teacher. Jakarta: Intuisi Press.
Pandoyo, Dkk. 2004. Matematika 1a untuk Sekolah Menengah Pertama Kelas 7.
Jakarta: Balai Pustaka.
Rusoni, Elin. 1999. Buku Pedoman Guru Madrasah Tsanawiyah Bernuansa Islam dengan Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: BEP Dikjen Depag RI.
Suyitno, Amin. 2005. Petunjuk Praktis Penelitian Tindakan Kelas untuk
Penyusunan Skripsi. Semarang: UNNES.
Suyitno, Amin. 2005. Pemilihan Model-model Pembelajaran Matematika dan Penerapannya di Madrasah Aliyah. Semarang: UNNES.
Zain, Aswan dan B.D, Syaiful. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

19
Lampiran 2
DAFTAR NAMA SISWA SMPN 2I2 JAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2009-2010
NO L/P Nama Siswa Keterangan
1 L ANDI RIAN JUBHARI
2 L ANDRE PRATAMA
3 L ANGGA MULYA AFREYMA.S
4 P ANNISA
5 P ARINA NUR ASINDI
6 P CANTIKA CITRA JATI ASTRIA
7 L CLEMENTIO WILLIAM PIERE
8 L DANDY ARYA DWIPAYANA
9 P DEVITA NURUL AULIA
10 P DIRA AYU LARASATI
11 P ERVINGKA NBIPI
12 P GITHA TRIA RAHMAN
13 L HAJI HANDIKA
14 L IKHWANUL NAFSIAH
15 L KAMAL HARTADI
16 P KHOIRUNNISA
17 P LIPANI HERAWATI
18 P LUNGGUH KHASANAH
19 P MEIZA ZULFA
20 P MIA AMELIA
21 L MUHAMMAD SULTAN ASYKARI
22 L MUKHBITAH WAFA
23 L NORMAN EDWARD
24 P NOVA AYU LESTARI
25 P NURUL FAJRIAH
26 P PUTRI NURAINI
27 L RAKA ANDIKA
28 L RAMADHAN ERSHAD.F
29 L REZA FIRDAUS
30 P RIANA WAHYULIANI
31 L RINO BAGUS BASKORO
32 L SAYID MUHAMMAD FAJRI.A
33 P SEPTI MENTARI
34 P SITI NUR HAIFA
35 P SITI SAWIYAH
36 L SYAHRUL RAMADAN
37 P SYIFA NUR OCTAVIA
38 L TAUFAN SAMUDRA AKBAR
39 P TSUAIBATUL ASLAMIAYYAH
40 L YOKI CANDRA
Jakarta, Nopember 2010
Mengetahui
Kepala SMPN 212 Jakarta Guru Mata Pelajaran

Drs. Nana Supriatna Lasmi Sirait
Nip. 131 266 954 Nip. 131 116 833

Lampiran 3
PEDOMAN WAWANCARA

No
Pernyataan

Ya
Tidak
1 Apakah kamu aktif bertanya jika penjelasan
bapak/ibu guru kurang jelas?

2 Jika menemukan kesulitan dalam belajar
matematika, apakah kamu menanyakan pada
bapak/ibu guru?

3 Apakah kamu senang mengerjakan soal-soal
matematika?

4 Apakah kamu memiliki buku pegangan atau LKS?

5 Kalau mendapatkan kesulitan dalam belajar, apakah
gurumu membantu menyelesaikan kesulitanmu?

Lampiran 4
DAFTAR OBSERVASI SISWA SIKLUS I
PADA SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)

No. Kegiatan yang diamati
Jumlah siswa
1..
a. Memperhatikan saat guru menerangkan
b. Memperhatikan pendapat/jawaban teman
32
25
2. Kegiatan berbicara
a. Bertanya pada teman dalam satu kelompok
b. Menjawab pertanyaan temannya
c. Mengeluarkan pendapat
8
13

7
3 Hubungan kerja sama antar satu kelompok 35

4 4. Kegiatan emosional
a. Bersemangat
b. Bosan

33
10

Jakarta, 2 November 2009
Observer,

Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833

Lampiran 5
DAFTAR OBSERVASI SISWA SIKLUS II
PADA SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)

NO KEGIATAN YANG DIAMATI JUMLAH SISWA
1 a. Perhatikan saat guru menerangkan 35
b. Memperhatikan pendapat/jawaban teman 28
2 Kegiatan berbicara
a. Bertanya pada teman dalam satu kelompok 6
b. Menjawab pertanyaan temannya 17
c. Mengeluarkan pendapat 13
3 Hubungan kerja sama antar satu kelompok 38
4 . Kegiatan emosional
a. Semangat 34
b. Bosan 8

Jakarta, 2 November 2009
Observer,

Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833

Lampiran 6
DAFTAR OBSERVASI SISWA SIKLUS III
PADA SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)

NO KEGIATAN YANG DIAMATI JUMLAH SISWA
1 a. Memperhatikan saat guru menerangkan 38
b. Memperhatikan pendapat/jawaban teman 35
2 Kegiatan berbicara
a. Bertanya pada teman dalam satu kelompok 5
b. Menjawab pertanyaan temannya 24
c. Mengeluarkan pendapat 15
3 Hubungan kerja sama antar satu kelompok 39
4 . Kegiatan emosional
a. Bersemangat 39
b. Bosan 2

Jakarta, 24 November 2009
Observer,

Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833

Lampiran 7
INSTRUMEN MONITORING OBSERVASI KELAS
SIKLUS I

Sekolah : SMP N 212 Jakarta
Kelas / Semester : VII .1 / Gasal
Hari / Tanggal : Kamis, 2 November 2009
Materi Pokok : Persamaan Linier Satu Variabel
Kompetensi Dasar : Pernyataan, Kalimat Terbuka, dan Himpunan Selesaian Kalimat
Terbuka
Waktu : 2 x 45 materi

NO YANG DIAMATI A B C D Keterangan
I Pendahuluan 1. Apersepsi
2. Motivasi
3. Revisi
II Pengembangan 1. Penguasaan materi
2. Penguasaan Metode
3. Keterampilan Guru:
a. Membagi kelompok
b. Pemberian Kuis
4. Menciptakan Suasana
Aktif dalam
Kelompok
III Penutup Pemberian Tugas

Jakarta, 2 November 2009
Keterangan Observer,
A = Baik sekali
C = Cukup
B = Baik
D = Kurang Lasmi Sirait Nip. 131 116 833

Lampiran 8
INSTRUMEN MONITORING OBSERVASI KELAS
SIKLUS II

Sekolah : SMP N 212 Jakarta
Kelas / Semester : VII F / Gasal
Hari / Tanggal : Kamis, 9 November 2006
Materi Pokok : Persamaan Linier Satu Variabel
Kompetensi Dasar : Persamaan dan Himpunan Selesaian Persamaan
dengan Satu Variabel
Waktu : 2 x 45 materi

NO YANG DIAMATI A B C D Keterangan
I Pendahuluan 1. Apersepsi
2. Motivasi
3. Revisi
II Pengembangan 1. Penguasaan materi
2. Penguasaan Metode
3. Keterampilan Guru:
a.Membagi kelompok
b.Pemberian Kuis
4. Menciptakan Suasana
Aktif dalam Kelompok
III Penutup Pemberian Tugas

Keterangan Jakarta, 9 November 2006
A = Baik sekali Observer.
C = Cukup
B = Baik
D = Kurang Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833

Lampiran 9
INSTRUMEN MONITORING OBSERVASI KELAS SIKLUS III

Sekolah : SMP N 212 Jakarta
Kelas / Semester : VII F / Gasal
Hari / Tanggal : Jum’at, 24 November 2009
Materi Pokok : Persamaan Linier Satu Variabel
Kompetensi Dasar : Menyelesaikan Persamaan dengan Aturan Tertentu
dan dalam Bentuk Soal Cerita
Waktu : 2 x 45 materi

NO YANG DIAMATI A B C D Keterangan
I Pendahuluan 4. Apersepsi
5. Motivasi
6. Revisi
II Pengembangan 5. Penguasaan materi
6. Penguasaan Metode
7. Keterampilan Guru:
a.Membagi kelompok
b.Pemberian Kuis
8. Menciptakan Suasana
Aktif dalam Kelompok
III Penutup Pemberian Tugas
Jakarta, 24 November 2009
Keterangan
A = Baik sekali Observer
C = Cukup
B = Baik
D = Kurang Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: